YESUS, SANG TERANG
Yes 8,23b-9,3; 1 Kor 1,10-17; Mt 4,12-23 / MB3-A
Pada
tahun-tahun terakhir ini, sebagian besar masyarakat mengalami pemadaman
listrik. Masyarakat telah menjadi korban pemadaman listrik secara
bergiliran. Ada dua hal penting dapat kita petik dari peristiwa
pemadaman listrik ini. Pertama, kita mengalami hambatan untuk memakai barang-barang elektronik. Kedua, pada
saat pemadaman listrik itu, kita baru sadar betapa kita sangat
membutuhkan terang untuk mengalahkan kegelapan. Selama listrik tidak
padam, mungkin kita tidak akan begitu mengambil makna akan kebutuhan
listrik itu dan terang tersebut. Dengan kata lain ada pemaknaan lain
akan terang tersebut. Terang sangat kita butuhkan dalam kehidupan kita
ini.
Bacaan-bacaan pada hari ini memperdengarkan kepada kita tentang Yesus sebagai terang. Dalam
bacaan pertama, kita mendengar kisah mengenai tanah Zebulon dan Naftali
yang jatuh ke tangan raja Assyur. Sebagian penduduk kota dibuang ke
Assyur. Pembuangan ini dipandang sebagai kesalahan kolektif. Mereka
telah melanggar perjanjian mereka dengan Yahwe. Nabi Yesaya tampil dan
menubuatkan kebebasan dan kelepasan. Kebebasan dari perbudakan itu
diibaratkan bagaikan bangsa yang berjalan dalam kegelapan kini melihat
terang yang besar. Kebebasan itu membawa sukacita dan sorak-sorai. Sebab
kuk yang menekan, gandar yang di atas bahu dan tongkat si penindas
dipatahkan. Orang yang tertindas mengalami pembebasan. Mereka menemukan
terang kembali.
Bacaan II pada hari ini menyebutkan bahwa terjadi perpecahan di antara umat Korintus. Paulus
meminta kepada mereka agar segera rukun kembali dengan menyampingkan
perselisihan mereka. Orang-orang Kristen di sana membentuk
kelompok-kelompok, dengan mengandalkan nama rasul Paulus, Apollos,
Petrus dalam Gereja Perdana. Paulus bertanya secara ironis bagaimana
orang-orang Kristen yang satu dalam Kristus menjadi terpecah. Kristus
mati untuk kita semua. Kita semua dibaptis dalam nama-Nya. Dalam
Kristus, semua bangsa dipersatukan
Injil hari ini menceritakan kisah
Yesus yang menyingkir ke Galilea dan memanggil para murid. Yesus
meninggalkan Nazaret dan menetap di Kafernaum. Awal karya Yesus di
Galilea dilihat oleh Mateus sebagai penggenapan nubuat nabi Yesaya.
Galilea, daerah yang dipandang rendah oleh orang-orang Yerusalem pada
masa Yesus, justru yang pertama menyaksikan peristiwa yang paling besar
dalam kehidupan Yesus di hadapan umum. Demikian Galilea, wilayah
bangsa-bangsa kafir, bangsa yang hidup dalam kegelapan telah melihat
Terang, yakni Yesus.
Yesus
sebagai Terang mewartakan pertobatan, “Bertobatlah, sebab kerajaan
surga sudah dekat”. Panggilan murid-murid pertama dalam Injil pada hari
ini merupakan tanda pertobatan. Sebelum perjumpaan dengan Guru dari
Nazaret, dalam diri mereka tentunya telah berlangsung suatu proses iman
lewat pendengaran, pergaulan, dan pengalaman. Mereka
terbuka dan peka terhadap panggilan Yesus. Maka, begitu Yesus menyapa
dan memanggil, merekapun segera mengikutinya. Para murid tidak
ragu-ragu, tidak tanggung-tanggung, tidak plin-plan, melainkan dengan
tampak radikal mengikuti-Nya.
Kita
menjadi Kristen harus secara total dan tidak tanggung-tanggung.
Demikianlah pada hakikatnya baik panggilan Kristus maupun jawaban kita
terhadap panggilan-Nya lewat proses yang pelan-pelan. Berkembang atau
tidaknya tergantung dari sikap kita yang konsekuen. Ini meminta
pengurbanan. Dan di sinilah arti dari penghayatan iman. Iman itu
benar-benar menjadi nyata dalam menghadapi hidup kongkrit dengan segala
pilihan dan kemungkinan. Sikap Petrus dan murid-murid lain hendaknya
menjadi sikap kita juga. Kita berani menanggapi panggilan-Nya dalam
hidup kita. Aku mau menjadi pengikut Kristus berarti
berani menjadi terang dan berani berkurban. Kita menjadi terang berarti
menghadirkan perdamaian yang tulus, persaudaraan yang sejati dan memberi
diri tanpa berharap akan balas budi. Beranikah kita menjadi terang di depan orang?
Menghargai Sesama
2 Sam 5: 1-7. 10; Mrk 3: 22-30
Dalam diri manusia ada dua (2)
pribadi: satu kita tunjukkan kepada orang lain dan satu lagi kita
sembunyikan. Pribadi yang kita tunjukkan itu senang berdoa, berpantang
dan berpuasa sampai badan kering-kerongtang, suka melakukan amal,
berkotbah dengan suara manis madu kepada semua orang yang dijumpainya di
jalan. Sementara pribadi yang tersembunyi itu tertawa diam-diam, senang
dipuji, mengumpat dan menghina orang lain, bermalas-malasan serta memberi “cap” yang kotor terhadap orang lain dan banyak lagi.
Kedua
bentuk pribadi ini ada dalam diri setiap manusia tidak terkecuali para
ahli taurat pada zaman Yesus seperti yang diketengahkan kepada kita
melalui bacaan hari ini. Para ahli taurat, setelah melihat
peristiwa-peristiwa ajaib/mujizat yang dibuat Yesus, mereka (ahli
taurat) langsung memberi tuduhan kepada Yesus dengan
menyatakan Yesus bersekutu dengan Belzebul “raja lalat” dewa Accaron,
atau “Tuan Rumah”. Berhadapan dengan tuduhan itu Yesus tentu membuat
pembelaan diri dengan memberi jawaban berupa perumpamaan berbentuk
kiasan. Perumpaman itu diibaratkan seperti sebuah kerajaan yang hancur
karena pertentangan dalam kerajaan itu dan perumpamaan yang kedua dengan
gaya semit, Ia melukiskan nasib yang sama menimpa sebuah rumah tangga
yang terpecah belah akibata pertentangan dalam kehidupan rumah tangga
tersebut.
Mungkin
kita bertanya apa maksud perumpamaan ini. Maksudnya adalah setan
menghancurkan diri sendiri jika ia terlalu bodoh mengutus Yesus untuk
mewarta di dunia ini.
Begitu
juga dalam hidup manusi. Kerap kita langsung memberi “cap” yang buruk
atau tuduhan-tuduhan yang buruk kepada orang lain karena iri hati, benci
dan dendam. Misalnya tidak memberi dukungan kepada orang yang melakukan
amal kasih, kepada orang yang menyatakan kebenaran, dan banyak hal lain
lagi bahkan kita akan mengumpat mereka baik secara langsung maupun
dalam hati. Orang yang menyatakan kebenaran kita anggap sebagai
pengahalang sehingga memunculkan iri hati, dendam, benci dalam hati
kita. Kurangnya penghargaan terhadap sesama kurang kita tanamkan dalam
diri kita, hal ini dapat kita lihat dengan banyaknya pembunuhan,
perampokan, pemerkosaan, main hakim sendiri dan penebangan hutan yang
meraja lela sehingga keutuhan ciptaan tidak lestari lagi. Para buruh
kurang mendapat perhatian dan mendapat tindakan semena-mena dan banyak
hal lagi yang menyelimuti negara kita ini.
Melalui
permenungan kali ini Yesus mengajak kita untuk mengharagai sesama
manusia. Mengahargai manusia berarti menghargai segala usaha dan
karyanya, menerima mereka apa adanya dengan segala kekurangan dan
kelebihannya karena segala bentuk kejahatan yang kita perbuat dianggap
melawan Roh dan hukumannya sangatlah berat. Tuhan berbelas kasih
terhadap manusia dan belas kasihan itu tidak akan pernah dicabut
oleh-Nya karena Ia menyebut hal-hal yang harus dijauhi manusia.
Doa
Yesus
Tuhanku dan penyelamatku berilah aku hati yang murni supaya aku dapat
memuji dan memuliakan Dikau. Syukur dan pujian itu ingin saya tunjukkan
untuk menghargai sesamaku manusia apa adanya. Yesus bantulah aku untuk
memberikan cinta kasih-Mu kepada setiap orang. Amen.
“Kriteria menjadi ibu, saudara dan saudari Yesus”
Bacaan I; 2 Sam 6: 12b-15. 17-19; Injil Mark 3: 31-35.
Syarat
utama menjadi seorang pemenang suatu pertandingan ialah, jika peserta
melakukan segala kriteria yang telah ditentukan oleh panitia atau oleh
dewan juri. Pastilah yang dapat melakukan seluruh kriteria dengan sebaik
mungkin, itulah yang layak disebut sebagai pemenang.
Injil
hari ini, menyatakan kepada kita kriteria untuk menjadi “ibu, saudara
dan saudari Yesus”. “Ibu dan sudara-saudari” Yesus adalah yang melakukan
kehendak Allah. Yesus dalam pewartaan-Nya, menyatakan diri-Nya sebagai
Putra Allah, banyak orang yang menganggap Yesus gila. Ketika orang
banyak (terutama yang menaruh benci kepada Yesus) melihat bahwa ada
orang yang mencari Yesus dan mengaku sebagai “ibu dan saudara-saudari-Nya”,
orang-orang itu ingin memojokkan Yesus atas pengakuan-Nya sebagai Putra
Allah. Tetapi Yesus menjawab mereka dengan menyatakan “kriteria” untuk
menjadi “ibu dan saudara-saudari-Nya”. Yang menjadi ibu dan
saudara-saudari Yesus adalah yang melaksanakan kehendak Allah. Saudara
dan saudari Yesus yang dimaksud di sini bukanlah anak-anak Maria tetapi
kaum kerabat seperti kemanakan disebut juga sebagai saudara. Dengan
menyatakan “ibu-Ku, saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan”
kekerabatan badaniah dikalahkan oleh kekerabatab rohaniah. Persaudaraan
yang disatukan oleh api dan air pembabtisan (rohani) lebih kuat dari
pada persaudaraan yang disatukan oleh darah. Hari ini Yesus menyatakan
“kriteria” untuk menjadi ibu, saudara dan saudari-Nya yankni harus
melakukan kehendak Allah. Yesus tidak menghendaki orang-orang yang hanya
mendengar kehendak Allah saja tetapi yang terutama harus melakukannya.
Bagaimanakah
sikap kita selama ini terhadap kehendak Allah yang kita dengar, kita
renungkan atau kita baca dari Kitab Suci? apakah kita hanya mendengar
seperti orang-orang di sekeliling Yesus? Layakkah saya disebut sebagai
“ibu, saudara dan saudari” Yesus melalui hidup saya sebagai orang
kristen? Kita akan menjadi kerabat Yesus jika kita melakukan kehendak
Allah serta merasa diri sebagai “ibu, saudara dan saudari dengan orang
lain yang telah dipersatukan dengan kita oleh api dan air pembabtisan.
Seperti seseorang yang turut dalam suatu pertandingan, kita harus
melakukan syarat-syarat atau kriterua yang diharuskan. Demikian juga
jika hendak menjadi “ibu dan saudara-saudari Yesus, kita harus melakukan
criteria-kriteria yang dikehendaki oleh Yesus untuk pantas disebut
sebagai “ibu dan saudara-saudari-Nya. Maka dengan demikian Yesus akan
berkata kepada kita, “kaulah ibu-Ku, kaulah saudara-Ku, kaulah
saudari-KU”.
Penabur Itu Manaburkan Firman
(Mrk. 4:14)
Setiap
orang yang ingin menanam tanaman tertentu, pastilah ia akan menanam
atau menabur benih pilihan dan benih unggul di lahan yang ia sudah
persiapkan dengan sebaik mungkin. Demikian juga “Sang Penabur”, Yesus
Kristus yang menaburkan Firman Allah.
Sang Penabur
menaburkan Firman Allah ke dalam hati para murid-Nya. Jika para
murid-Nya menerima Firman Allah dengan lapang dada dan hati terbuka,
maka Firman itu akan tetap berkembang dengan subur dan menghasilkan
buah yang melimpah. Namun, kalau Firman itu tidak diterima dengan
lapang dada dan hati terbuka maka Firman itu akan seperti benih yang
jatuh di jalan dan burung-burung mematuk benih itu, karena lebih mudah
menemukannya daripada di alur ladang, dan juga seperti benih yang jatuh
di tanah berbatu-batu dan di tengah semak berduri, ia akan cepat layu,
kering karena tidak berakar dan ia juga tidak berbuah karena semak itu
menghimpit dan semakin besar. Tetapi jika benih itu jatuh di tanah yang
subur seperti di Galilea, benih itu akan berkembang dengan subur dan
menghasilkan buah yang melimpah.
Demikian juga Firman Allah yang ditaburkan oleh “Sang Penabur” ke dalam hati para murid-Nya akan memberikan
hikmat yang menuntun mereka pada keselamatan , karena kasih setia Allah
tidak akan hilang (2 Sam 7:15a) jika mereka menerima Firman itu dengan
lapang dada dan hati terbuka. Firman itu akan menuntun mereka pada
keselamatan, memperbaiki kelakuan mereka, mendidik mereka dalam
kebenaran, menyingkirkan semak duri dan batu-batu dalam hati mereka
seperti hati yang tegar, keras, dingin, cuek, dan egois. Sebab dengan demikian Firman itu akan tetap bertumbuh dan berkembang dengan subur sampai menghasilkan buah melimpah , karena kasih setiah Allah tidak akan hilang, seperti yang Allah hilangkan daripada Saul, yang telah Allah jauhkan dari hadapan Nattan (2 Sam. 7:15).
Bagaimana dengan persoalan kita sekarang yang hidup di dunia modern ini. Di mana kita sibuk dengan pribadi kita masing-masing,
bahkan kita sendiri tidak mempunyai waktu lagi untuk mendengarkan
Firman Allah. Sehingga kita semakin sulit untuk membuka diri bagi sesama
dan terutama sulit membuka hati kita ke dalam Firman Allah. Walaupun
ada, itu mungkin hanya sebatas suatu rutinitas dan kewajiban belaka,
syukurlah kalau masih ada dengan tulus hati membuka diri bagi Firman
itu. Namun, persoalan itu tidak hanya sulitnya untuk membuka hati kepada
Firman Allah tetapi juga soal benih yang kita tanamkan dalam hati kita.
Itu Karena kita sulit mendengarkan dan membuka diri pada “Benih” yang
unggul itu, yaitu; Firman Allah. Maka kita tanpa sadar, kita kerap
menanamkan benih amarah, irih, dengki, perpecahan, dsb. di dalam diri
kita, dalam keluarga kita, dalam lingkungan pergaulan kita sehari-hari
atau bahkan dalam masyarakat kita. Oleh karena itu, marilah kita membuka hati dan membiarkan “Benih”
itu bertumbuh, berkembang dan menghasilkan buah rahmat melimpah, yang
menuntun kita pada keselamatan, mendidik dan memperbaiki kelakuan kita
ke dalam kebenaran. Sehingga Kasih Allah yang Ia taburkan dalam hati
kita tumbuh subur dan menghasilkan rahmat melimpah, yang akhirnya menuntun kita kepada kebenaran, cinta, damai, adil dan jujur.



RSS Feed
Tidak ada komentar:
Posting Komentar