Jumat, 02 Maret 2012

YESUS, SANG TERANG

YESUS, SANG TERANG
Yes 8,23b-9,3; 1 Kor 1,10-17; Mt 4,12-23 / MB3-A
Pada tahun-tahun terakhir ini, sebagian besar masyarakat mengalami pemadaman listrik. Masyarakat telah menjadi korban pemadaman listrik secara bergiliran. Ada dua hal penting dapat kita petik dari peristiwa pemadaman listrik ini. Pertama, kita mengalami hambatan untuk memakai barang-barang elektronik. Kedua, pada saat pemadaman listrik itu, kita baru sadar betapa kita sangat membutuhkan terang untuk mengalahkan kegelapan. Selama listrik tidak padam, mungkin kita tidak akan begitu mengambil makna akan kebutuhan listrik itu dan terang tersebut. Dengan kata lain ada pemaknaan lain akan terang tersebut. Terang sangat kita butuhkan dalam kehidupan kita ini.
Bacaan-bacaan pada hari ini memperdengarkan kepada kita tentang Yesus sebagai terang. Dalam bacaan pertama, kita mendengar kisah mengenai tanah Zebulon dan Naftali yang jatuh ke tangan raja Assyur. Sebagian penduduk kota dibuang ke Assyur. Pembuangan ini dipandang sebagai kesalahan kolektif. Mereka telah melanggar perjanjian mereka dengan Yahwe. Nabi Yesaya tampil dan menubuatkan kebebasan dan kelepasan. Kebebasan dari perbudakan itu diibaratkan bagaikan bangsa yang berjalan dalam kegelapan kini melihat terang yang besar. Kebebasan itu membawa sukacita dan sorak-sorai. Sebab kuk yang menekan, gandar yang di atas bahu dan tongkat si penindas dipatahkan. Orang yang tertindas mengalami pembebasan. Mereka menemukan terang kembali.
Bacaan II pada hari ini menyebutkan bahwa terjadi perpecahan di antara umat Korintus. Paulus meminta kepada mereka agar segera rukun kembali dengan menyampingkan perselisihan mereka. Orang-orang Kristen di sana membentuk kelompok-kelompok, dengan mengandalkan nama rasul Paulus, Apollos, Petrus dalam Gereja Perdana. Paulus bertanya secara ironis bagaimana orang-orang Kristen yang satu dalam Kristus menjadi terpecah. Kristus mati untuk kita semua. Kita semua dibaptis dalam nama-Nya. Dalam Kristus, semua bangsa dipersatukan
Injil hari ini menceritakan kisah Yesus yang menyingkir ke Galilea dan memanggil para murid. Yesus meninggalkan Nazaret dan menetap di Kafernaum. Awal karya Yesus di Galilea dilihat oleh Mateus sebagai penggenapan nubuat nabi Yesaya. Galilea, daerah yang dipandang rendah oleh orang-orang Yerusalem pada masa Yesus, justru yang pertama menyaksikan peristiwa yang paling besar dalam kehidupan Yesus di hadapan umum. Demikian Galilea, wilayah bangsa-bangsa kafir, bangsa yang hidup dalam kegelapan telah melihat Terang, yakni Yesus.
Yesus sebagai Terang mewartakan pertobatan, “Bertobatlah, sebab kerajaan surga sudah dekat”. Panggilan murid-murid pertama dalam Injil pada hari ini merupakan tanda pertobatan. Sebelum perjumpaan dengan Guru dari Nazaret, dalam diri mereka tentunya telah berlangsung suatu proses iman lewat pendengaran, pergaulan, dan pengalaman. Mereka terbuka dan peka terhadap panggilan Yesus. Maka, begitu Yesus menyapa dan memanggil, merekapun segera mengikutinya. Para murid tidak ragu-ragu, tidak tanggung-tanggung, tidak plin-plan, melainkan dengan tampak radikal mengikuti-Nya.
Kita menjadi Kristen harus secara total dan tidak tanggung-tanggung. Demikianlah pada hakikatnya baik panggilan Kristus maupun jawaban kita terhadap panggilan-Nya lewat proses yang pelan-pelan. Berkembang atau tidaknya tergantung dari sikap kita yang konsekuen. Ini meminta pengurbanan. Dan di sinilah arti dari penghayatan iman. Iman itu benar-benar menjadi nyata dalam menghadapi hidup kongkrit dengan segala pilihan dan kemungkinan. Sikap Petrus dan murid-murid lain hendaknya menjadi sikap kita juga. Kita berani menanggapi panggilan-Nya dalam hidup kita. Aku mau menjadi pengikut Kristus berarti berani menjadi terang dan berani berkurban. Kita menjadi terang berarti menghadirkan perdamaian yang tulus, persaudaraan yang sejati dan memberi diri tanpa berharap akan balas budi. Beranikah kita menjadi terang di depan orang?

Menghargai Sesama

2 Sam 5: 1-7. 10; Mrk 3: 22-30
Dalam diri manusia ada dua (2) pribadi: satu kita tunjukkan kepada orang lain dan satu lagi kita sembunyikan. Pribadi yang kita tunjukkan itu senang berdoa, berpantang dan berpuasa sampai badan kering-kerongtang, suka melakukan amal, berkotbah dengan suara manis madu kepada semua orang yang dijumpainya di jalan. Sementara pribadi yang tersembunyi itu tertawa diam-diam, senang dipuji, mengumpat dan menghina orang lain, bermalas-malasan serta memberi “cap” yang kotor terhadap orang lain dan banyak lagi.
Kedua bentuk pribadi ini ada dalam diri setiap manusia tidak terkecuali para ahli taurat pada zaman Yesus seperti yang diketengahkan kepada kita melalui bacaan hari ini. Para ahli taurat, setelah melihat peristiwa-peristiwa ajaib/mujizat yang dibuat Yesus, mereka (ahli taurat) langsung memberi tuduhan kepada Yesus dengan menyatakan Yesus bersekutu dengan Belzebul “raja lalat” dewa Accaron, atau “Tuan Rumah”. Berhadapan dengan tuduhan itu Yesus tentu membuat pembelaan diri dengan memberi jawaban berupa perumpamaan berbentuk kiasan. Perumpaman itu diibaratkan seperti sebuah kerajaan yang hancur karena pertentangan dalam kerajaan itu dan perumpamaan yang kedua dengan gaya semit, Ia melukiskan nasib yang sama menimpa sebuah rumah tangga yang terpecah belah akibata pertentangan dalam kehidupan rumah tangga tersebut.
Mungkin kita bertanya apa maksud perumpamaan ini. Maksudnya adalah setan menghancurkan diri sendiri jika ia terlalu bodoh mengutus Yesus untuk mewarta di dunia ini.
Begitu juga dalam hidup manusi. Kerap kita langsung memberi “cap” yang buruk atau tuduhan-tuduhan yang buruk kepada orang lain karena iri hati, benci dan dendam. Misalnya tidak memberi dukungan kepada orang yang melakukan amal kasih, kepada orang yang menyatakan kebenaran, dan banyak hal lain lagi bahkan kita akan mengumpat mereka baik secara langsung maupun dalam hati. Orang yang menyatakan kebenaran kita anggap sebagai pengahalang sehingga memunculkan iri hati, dendam, benci dalam hati kita. Kurangnya penghargaan terhadap sesama kurang kita tanamkan dalam diri kita, hal ini dapat kita lihat dengan banyaknya pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, main hakim sendiri dan penebangan hutan yang meraja lela sehingga keutuhan ciptaan tidak lestari lagi. Para buruh kurang mendapat perhatian dan mendapat tindakan semena-mena dan banyak hal lagi yang menyelimuti negara kita ini.
Melalui permenungan kali ini Yesus mengajak kita untuk mengharagai sesama manusia. Mengahargai manusia berarti menghargai segala usaha dan karyanya, menerima mereka apa adanya dengan segala kekurangan dan kelebihannya karena segala bentuk kejahatan yang kita perbuat dianggap melawan Roh dan hukumannya sangatlah berat. Tuhan berbelas kasih terhadap manusia dan belas kasihan itu tidak akan pernah dicabut oleh-Nya karena Ia menyebut hal-hal yang harus dijauhi manusia.
Doa
Yesus Tuhanku dan penyelamatku berilah aku hati yang murni supaya aku dapat memuji dan memuliakan Dikau. Syukur dan pujian itu ingin saya tunjukkan untuk menghargai sesamaku manusia apa adanya. Yesus bantulah aku untuk memberikan cinta kasih-Mu kepada setiap orang. Amen.

“Kriteria menjadi ibu, saudara dan saudari Yesus”

Bacaan I; 2 Sam 6: 12b-15. 17-19; Injil Mark 3: 31-35.
Syarat utama menjadi seorang pemenang suatu pertandingan ialah, jika peserta melakukan segala kriteria yang telah ditentukan oleh panitia atau oleh dewan juri. Pastilah yang dapat melakukan seluruh kriteria dengan sebaik mungkin, itulah yang layak disebut sebagai pemenang.
Injil hari ini, menyatakan kepada kita kriteria untuk menjadi “ibu, saudara dan saudari Yesus”. “Ibu dan sudara-saudari” Yesus adalah yang melakukan kehendak Allah. Yesus dalam pewartaan-Nya, menyatakan diri-Nya sebagai Putra Allah, banyak orang yang menganggap Yesus gila. Ketika orang banyak (terutama yang menaruh benci kepada Yesus) melihat bahwa ada orang yang mencari Yesus dan mengaku sebagai “ibu dan saudara-saudari-Nya”, orang-orang itu ingin memojokkan Yesus atas pengakuan-Nya sebagai Putra Allah. Tetapi Yesus menjawab mereka dengan menyatakan “kriteria” untuk menjadi “ibu dan saudara-saudari-Nya”. Yang menjadi ibu dan saudara-saudari Yesus adalah yang melaksanakan kehendak Allah. Saudara dan saudari Yesus yang dimaksud di sini bukanlah anak-anak Maria tetapi kaum kerabat seperti kemanakan disebut juga sebagai saudara. Dengan menyatakan “ibu-Ku, saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan” kekerabatan badaniah dikalahkan oleh kekerabatab rohaniah. Persaudaraan yang disatukan oleh api dan air pembabtisan (rohani) lebih kuat dari pada persaudaraan yang disatukan oleh darah. Hari ini Yesus menyatakan “kriteria” untuk menjadi ibu, saudara dan saudari-Nya yankni harus melakukan kehendak Allah. Yesus tidak menghendaki orang-orang yang hanya mendengar kehendak Allah saja tetapi yang terutama harus melakukannya.
Bagaimanakah sikap kita selama ini terhadap kehendak Allah yang kita dengar, kita renungkan atau kita baca dari Kitab Suci? apakah kita hanya mendengar seperti orang-orang di sekeliling Yesus? Layakkah saya disebut sebagai “ibu, saudara dan saudari” Yesus melalui hidup saya sebagai orang kristen? Kita akan menjadi kerabat Yesus jika kita melakukan kehendak Allah serta merasa diri sebagai “ibu, saudara dan saudari dengan orang lain yang telah dipersatukan dengan kita oleh api dan air pembabtisan. Seperti seseorang yang turut dalam suatu pertandingan, kita harus melakukan syarat-syarat atau kriterua yang diharuskan. Demikian juga jika hendak menjadi “ibu dan saudara-saudari Yesus, kita harus melakukan criteria-kriteria yang dikehendaki oleh Yesus untuk pantas disebut sebagai “ibu dan saudara-saudari-Nya. Maka dengan demikian Yesus akan berkata kepada kita, “kaulah ibu-Ku, kaulah saudara-Ku, kaulah saudari-KU”.
Penabur Itu Manaburkan Firman
(Mrk. 4:14)
Setiap orang yang ingin menanam tanaman tertentu, pastilah ia akan menanam atau menabur benih pilihan dan benih unggul di lahan yang ia sudah persiapkan dengan sebaik mungkin. Demikian juga “Sang Penabur”, Yesus Kristus yang menaburkan Firman Allah.
Sang Penabur menaburkan Firman Allah ke dalam hati para murid-Nya. Jika para murid-Nya menerima Firman Allah dengan lapang dada dan hati terbuka, maka Firman itu akan tetap berkembang dengan subur dan menghasilkan buah yang melimpah. Namun, kalau Firman itu tidak diterima dengan lapang dada dan hati terbuka maka Firman itu akan seperti benih yang jatuh di jalan dan burung-burung mematuk benih itu, karena lebih mudah menemukannya daripada di alur ladang, dan juga seperti benih yang jatuh di tanah berbatu-batu dan di tengah semak berduri, ia akan cepat layu, kering karena tidak berakar dan ia juga tidak berbuah karena semak itu menghimpit dan semakin besar. Tetapi jika benih itu jatuh di tanah yang subur seperti di Galilea, benih itu akan berkembang dengan subur dan menghasilkan buah yang melimpah.
Demikian juga Firman Allah yang ditaburkan oleh “Sang Penabur” ke dalam hati para murid-Nya akan memberikan hikmat yang menuntun mereka pada keselamatan , karena kasih setia Allah tidak akan hilang (2 Sam 7:15a) jika mereka menerima Firman itu dengan lapang dada dan hati terbuka. Firman itu akan menuntun mereka pada keselamatan, memperbaiki kelakuan mereka, mendidik mereka dalam kebenaran, menyingkirkan semak duri dan batu-batu dalam hati mereka seperti hati yang tegar, keras, dingin, cuek, dan egois. Sebab dengan demikian Firman itu akan tetap bertumbuh dan berkembang dengan subur sampai menghasilkan buah melimpah , karena kasih setiah Allah tidak akan hilang, seperti yang Allah hilangkan daripada Saul, yang telah Allah jauhkan dari hadapan Nattan (2 Sam. 7:15).
Bagaimana dengan persoalan kita sekarang yang hidup di dunia modern ini. Di mana kita sibuk dengan pribadi kita masing-masing, bahkan kita sendiri tidak mempunyai waktu lagi untuk mendengarkan Firman Allah. Sehingga kita semakin sulit untuk membuka diri bagi sesama dan terutama sulit membuka hati kita ke dalam Firman Allah. Walaupun ada, itu mungkin hanya sebatas suatu rutinitas dan kewajiban belaka, syukurlah kalau masih ada dengan tulus hati membuka diri bagi Firman itu. Namun, persoalan itu tidak hanya sulitnya untuk membuka hati kepada Firman Allah tetapi juga soal benih yang kita tanamkan dalam hati kita. Itu Karena kita sulit mendengarkan dan membuka diri pada “Benih” yang unggul itu, yaitu; Firman Allah. Maka kita tanpa sadar, kita kerap menanamkan benih amarah, irih, dengki, perpecahan, dsb. di dalam diri kita, dalam keluarga kita, dalam lingkungan pergaulan kita sehari-hari atau bahkan dalam masyarakat kita. Oleh karena itu, marilah kita membuka hati dan membiarkan “Benih” itu bertumbuh, berkembang dan menghasilkan buah rahmat melimpah, yang menuntun kita pada keselamatan, mendidik dan memperbaiki kelakuan kita ke dalam kebenaran. Sehingga Kasih Allah yang Ia taburkan dalam hati kita tumbuh subur dan menghasilkan rahmat melimpah, yang akhirnya menuntun kita kepada kebenaran, cinta, damai, adil dan jujur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Design By:
free templates blogger